
Industri cetak offset saat ini berada di persimpangan jalan yang krusial. Di satu sisi, teknologi digital berkembang pesat, namun di sisi lain, cetak offset tetap menjadi tulang punggung produksi massal karena keunggulan biaya per unitnya.

Untuk menghadapi persaingan global, efisiensi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan syarat bertahan hidup. Lalu pertanyaannya adalah kenapa banyak industry cetak offset di Indonesia kalah saing baik di dalam negeri maupaun dengan produk import, terutama dari China.
SIMAK JUGA VIDEO YOUTUBE PRINT MEDIA BERIKUT : https://www.youtube.com/@PrintMediaIndonesia
Seperti kita ketahui China saat ini merupakan raksasa ekonomi dunia yang hamper menguasai semua lini industry, termasuk salah satunya industry cetak offset. Kita sering lihat agresifitas mereka dalam memasarkan produknya dalam setiap ajang pameran baik di Indonesia maupun di luar negeri.
Mereka seolah memberikan sejuta tawaran menarik baik dari segi kualitas, harga dan produktivitas dan kecepatan pengiriman, lalu kemana industry dalam negeri kita?
Boleh diakui atau tidak hal-hal mendasar yang masih banyak terjadi khususnya dalam industry cetak offset perlu segera dibenahi oleh semua pemangku kebijakan yang terlibat dalam industry ini.
Yang tidak kalah penting adalah merubah Pola Pikir dan Pola Kerja, bukan saatnya lagi sering mengatasi masalah , dimana masalahnya sudah terjadi, akan tetapilebih pada melakukan pencegahan masalah dengan melakukan pemetaan terhadap potensi masalah yang akan ditimbulkan baik dari metrial, mesin, proses kerja dan kondisi lingkungan.
Rendahnya OEE (OEE : Overall Equipment Effectiveness) adalah metrik standar industri untuk mengukur efektivitas dan produktivitas proses manufaktur, yang dihitung dari tiga faktor utama: Ketersediaan (Availability), Kinerja (Performance), dan Kualitas (Quality).
Hal ini yang menjadikan biaya ongkos cetak menjadi tinggi dan tidak bersaing dipasaran. Masih banyak yang belum menyadari bahwa membuang kertas (reject) masih dianggap wajar baik dalam proses persiapan (make ready time) ataupun pada saat proses berjalan akibat penggunaan material yang tidak standar, mesin yang kurang bahkan tidak pernah mengalami perawatan atau tidak adanya system standard operational prosedur (SOP) kerja dan pengaturan jadwal kerja (Change over Job).
Dalam industry dan proses cetak offset umumnya masih menggunakan Air Pembasah atau seringkali disebut Fountain Solution, dimana material ini merupakan salah satu material utama yang dipakai dalam proses cetak offset selain tinta dan kertas. Tetapi kecenderungan keberadaan Air Pembasah ini masih dianggap sebagai pelengkap saja, sehingga kualitas dan parameternya nyaris tidak pernah diperhatikan karena berprinsip yang penting mesin cetak bisa beroperasi dan menghasilkan.

Justru dalam proses cetak offset ini kesimbangan Air Pembasah dan Tinta atau yang sering kita sebut Ink Water Balance menjadi jantung dan salah satu factor yang menetukan dalam kelancaran dan kualitas cetak offset.
Mungkin dalam beberapa artikel sebelumnya sudah banyak yang membahas tentang parameter kualitas Air Pembasah ini.
Namun tidak ada salahnya kita ingaktkan kembali beberapa hal penting yang menyangkut parameter kualitas air pembasah tersebut diantaranya :
1. Kualitas Air baku, dimana kualitas air ini sangat menentukan pada hasil cetak dengan memperhatikan nilai keasaman atau pH dengan nilai 7 netral, lalu nilai daya hantar listrik (konduktivity) yang mendeskripsikan kandungan mineral dalam air tersebut, serta nilai kesadahan, apakah air tesebut tergolong Hard Water atau Soft Water, nilai yang direkomendasikan untuk kesadahan ini adalah 8-12 derajat German. JIka kualitas air terlalu Soft (Lunak) ternyata bisa menyebabkan pengkaratan pada material logam pada mesin terutama roll serta buih/ busa yang sangat banyak ketika ditambahkan dengan Additive Fountain
2. Komposisi Air Pembasah yang hampir lebih dari 80% merupakan Air Baku, kemudian Additive Fountain sebanyak 2-3 % dan penggunaan IPA (Iso Propil Alkohol) untuk mesin mesin yang masih menggunakannya dengan dosis umunya 5-8%. Saat ini sudah pula banyak penggunaan Fountain zero Alkohol (tanpa IPA sama sekali).
3. Kompisisi diatas tentunya harus melalui pengukuran terlebih dahulu untuk memastikan nilai ataupun takarannya sesuai dengan kebutuhan. Pengukuran nilai daya hantar listrik ini penting dilakukan untuk memastikan prosentasi Fountain Solution tersebut sesuai anjuran yang tertera dalam label produk. Nilai pH saat ini sudah cenderung stabil pada rentang 4,5 – 5,5 karena hampir semua jenis Fountain Solution yang beredar dipasaran saat ini sudah menggunakan Buffer pH dimana ketika menambahkan berapapaun maka nilai pH pada campuran Air pembasah tersebut cenderung tetap.
4. Penggunaan IPA (Iso Propil Alkohol) yang ditambahkan untuk menambah daya basah permukaan pada plat cetak dengan tingkat tegangannya permukaannya yang rendah. Namun masih banyak penggunaan IPA ini sebatas formalitas dengan memilih harga material yang murah dan alasan masih bisa dipakai tanpa berfikir lanjut efek atau dampak yang ditimbulkan dari penggunaan material yang katanya disebut IPA. Banyak beredar Alkohol murah dengan kandungan lebih banyak Metanol yaitu Jenis Alkohol dengan jumlah rantai Carbon (C-) hanya satu. Jenis Alkohol ini mempuyai sifat mudah terbakar dan menguap pada suhu normal, sehingga menambahkannya pada campuran Air Pembasah perlu jumlah atau prosentase yang sangat tinggi artinya tanpa disadari tingkat pemborosannya sangat tinggi dibanding dengan menggunakan Alkohol (IPA = Iso Propil Alkohol) yang memiliki rantai Carbon 3 dengan kemurnian 99%. Pengukuran kemurnian ini bisa dilakukan dengan alat Gas Chromatograpfi (GC).
Lalu bagaimana dengan Material lainnya seperti Tinta dan Kertas, baik kita lanjutkan pembahasan pada materal-material tersebut.
Jika kita bicara mengenai Tinta Cetak Offset banyak beredar merek merek yang sudah tidak asing lagi saat ini, tapi yang terpenting adalah memahami karakteristik dari tinta tersebut serta bagaimana interkasi dengan material lain, seperti Air Pembasah, Kertas , Plat serta perjalanan transfer tinta mulai dari bak tinta sampai ke Roll lalu ke Plate, Blanket sampai akhirnya transfer ke kertas.
Penting memahami karakteristik tinta ini diantaranya :
– Warna (Density, Shade, Gloss)
– Sifat Rheology (Tack, Visco, Flow, Spreading)
– Sifat Resistensi (Cahaya/LF, Chemical, Gosok)
– Sifat Pengeringan
• Oksidasi ( Formulasi)
• Absorpsi (Oil Absoprtion paper, Fountain)
• Evaporasi ( Suhu & Sirkulasi udara, RH)
Nilai density pada hasil cetak bukan hanya ditentukan oleh seberapa tinggi Ink density atau lebih banyak dikenal dengan Tinta HD (High Density) tapi bagaimana proses transfernya seperti yang sudah dijelaskan diatas.
Proses ini harus disesuaikan antara nilai Kelengketan (Tack Value) dengan jenis permukaan kertas , kecepatan cetak (speed) serta kualitas Kompresibiltas (kekenyalan roll) yang menghantarkan tinta tersebut. Namun jangan khawatir saat ini sudah ada jenis tinta yang bisa dipacu pada speed rendah ataupun speed tinggi tanpai menimbulkan masalah Picking (tercabutnya permukaan kertas) ataupun Misting / Ink Flying, dan bisa dipakai untuk semua jenis kertas baik Coated maupun Uncoated sudah dalam satu paket tinta.
Justru yang perlu dipehatikan adalah kualitas Roll karet, apakah nilai Shore nya masih memenuhi standard atau sudah saatnya diganti. Kondisi dan kualitas Roll ini tidak terlepas dari rutinitas pemeliharaan dengan melakukan pencuian roll secara berkala dengan teknik dan bahan pencuci yang benar dan tepat yaitu tidak merusak lapisan Plasticizernya serta proses de-Glazing yaitu tidak hanya membersihkan permukaan roll saja tetapi juga mengangkat kotoran tinta dan debu kertas yang sudah menyumbat pori-pori kertas tersebut, dimana hal ini akan menyebakan roll menjadi keras karena ruang porinya sudah tidak ada, maka daya kompresinya berkurang. Jika kondisi ini dipaksakan maka Roll mudah pecah dan daya transfernya semakin menurun, menuntut jumlah tinta yang semakin banyak untuk bisa mentransfer tinta.
Berikut adalah kemampuan transfer tinta secara keseluruhan untuk tinta Offset Konvensional:
• Konsentrasi pigment (rasio ideal)
• Viskositas (Kental belum tentu densitynya tinggi)
• Kelengketan (Tackiness yang optimum)
• Keseimbangan Emulsi Tinta dengan Air Pembasah
• Kemampuan Transfer Roll dan Blanket (Kompresibilitas)
• Tingkat Penyerapan Kertas, kerataan permukaan
• Kemampuan Plate
• Kecepatan Cetak
• Tekanan Cetak
Kita lanjutkan dengan bagaimana memperhatikan kualitas kertas yang optimal digunakan dalam cetak Offset. Yang paling penting diperhatikan adalah terkait dengan daya serap minyak dan air dari permukaan tersebut, dimana kedua sifat ini akan mempengaruhi tingkat kecepatan dan kualitas penegringan tinta pada permukaan kertas. Jika nilai kedua penyerapannya rendah maka bisa dipastikan potensi lama kering dan terjadinya masalah Set Off, Rubbing akan sangat besar terjadi.
Masih sangat banyak yang belum menyadari hal ini dan cenderung ketika masalah -masalah diatas terjadi dengan sangat mudah menyimpulkan bahwa tintalah yang menyebabkannya.
Metode COBB Test adalah cara untuk bisa mengetahui nilai penyerapan tersebut dan tidak ada nilai standard baku yang harus dicapai, hal ini lebih pada membandingkan dengan kertas yang sudah teruji mempunyai kualitas cetak yang tidak mengalami masalah pengeringan . Kertas yang mempunyai kualitas baik ini bisa dijadikan acauan atau refernsi pembanding dengan kertas berikutnya.
Demikianlah hal-hal mendasar yang masih perlu kita perhatikan rersama untuk bisa mencapai tingkat efisiensi yang optimum guna menghasilkan produk cetak yang berkualitas dan berbiaya rendah dengan cara melakukan pemetaan masalah, memilih serta mengetahui setiap karakteristik material yang digunakan, membuat cara kerja yang standar, melakukan perawatan mesin secara berkala dengan bahan perawatan dan Teknik yang benar.
Disamping itu saat ini juga perlu melakukan terobosan dengan proses automatisasi dan mekanisasi pada beberapa bagian pekerjaan, semisal pada proses pencucian blanket yang sudah pasti rutin dilakukan dan sangat memakan waktu. Tanpa disadari akumulasi waktu pencucian ini bisa sangat menyita waktu efektif produksi.
Saat ini sudah ada Tools yang bisa membantu proses pencucian blanket secara otomatis, dengan hanya menambahkan atau Implant alat pada mesin yang sudah ada. Nilai investasi yang ditanamkan sebanding dengan nilai revenue yang dihasilkan dab bahkan bisa menaikkan OEE secara significant, dimana biaya rutin yang selalu harus dikeluarkan akan bisa digantikan dengan penggunaan alat tersebut yang jauh lebih efisien dan bertahan lama dan mampu mereduksi ongkos cetak.
Keberhasilan dalam proses cetak offset tidak hanya ditentukan oleh mesin yang canggih, melainkan oleh keharmonisan antara aspek teknis, material, dan keahlian manusia.
Semoga bisa membantu.
Terimakasi
Asep Nuryaman
Offset SF Product Manager
PT. DIC Graphics
Info / Email : info@printmediamagz.com






