
Dr. Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si.
(Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya)
Tahun 2026 mencatat sebuah titik balik penting dalam dunia fotografi. Setelah satu dekade transformasi digital, dari era sensor besar, mirrorless, hingga computational photography di smartphone, kini dunia fotografi memasuki fase baru yang jauh lebih mendalam yaitu kolaborasi antara manusia dengan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligent (AI) sebagai partner kreatif. Bukan lagi sekadar alat untuk mengedit, menyeleksi, atau mempercantik gambar, AI kini menjadi rekan berpikir, rekan memutuskan, bahkan rekan berimajinasi.

Fenomena ini memiliki istilah yang makin populer di kalangan fotografer, desainer, dan seniman media, sebut saja istilahnya “Human AI Synergy”. Sebuah hubungan kerja sama yang tidak meniadakan peran manusia, tetapi justru memperluas batas-batas kemampuan kreatifnya.
Pada tahun ini, berbagai studio, pekerja kreatif, dan fotografer independen di seluruh dunia mulai memanfaatkan AI sebagai semacam “partner visual” yang dapat memberikan rekomendasi komposisi, memperhalus ide artistik, memprediksi estetika gambar, hingga menyempurnakan karya secara intuitif melalui perintah natural language. Dan perubahan ini tampak tidak lagi sekadar tren sesaat, tetapi sebagai fondasi baru bagi masa depan fotografi.
Evolusi Cara Menggunakan AI
Jika menengok beberapa tahun ke belakang, penggunaan AI dalam fotografi dianggap sebagai pelengkap. Pada 2020–2023 fotografer mengenal AI lewat fitur kecil di smartphone seperti night mode, auto HDR, portrait segmentation, atau filter otomatis yang memperbaiki kulit dan warna. Pada 2024–2025, aplikasi generative AI mulai berkembang, tetapi lebih banyak digunakan untuk membuat visual fiktif atau memperbaiki foto rusak.
Namun memasuki 2026, peran AI melompat jauh lebih besar. AI kini mempelajari “gaya” fotografer, cara mereka melihat dunia, preferensi warna, pola komposisi, hingga sensitivitas estetika yang sangat personal. Dari situ, AI dapat memberikan saran kreatif yang konsisten dengan karakter pribadi fotografer tersebut.
Fotografer bisa meminta kepada mesin AI, misalnya “Beri saya tiga alternatif framing yang lebih dramatis tapi tetap mempertahankan mood sunyi ini.” AI akan memunculkan opsi bukan sebagai editan langsung, tetapi sebagai “ide visual” yang bisa dipraktikkan saat pemotretan nyata. Atau ketika sedang memotret di studio, selanjutnya fotografer cukup berkata “Turunkan intensitas cahaya sisi kiri, buat lebih soft seperti gaya Rembrandt tapi tone tetap modern.” Maka AI akan menyesuaikan parameter lampu digital terhubung (jika memakai sistem cerdas), atau memberi rekomendasi pengaturan tepat.
Bahkan ketika sedang mengonsep proyek fotografi, AI dapat bertindak sebagai Creative Consultant, memberi insight seperti “Untuk tema nostalgia urban, gunakan lensa 35mm dengan warna orange muda yang lebih lembut. Pertimbangkan komposisi center-weighted agar makna emosionalnya lebih kuat.”
Dengan demikian, AI tidak lagi bekerja “setelah” foto diambil (post-processing), tetapi juga “sebelum” dan “saat” pemotretan berlangsung. Di sinilah “Human AI Synergy” menemukan maknanya bahwa AI bekerja bersama fotografer, bukan menggantikan fotografer.
Fotografer sebagai Director Kreatif
Salah satu dampak terbesar dari tren ini adalah pergeseran peran fotografer. Di masa lalu, fotografer harus menguasai banyak aspek teknis seperti exposure, ISO, shutter speed, color grading, retouching detail, sampai controlling lighting yang rumit. Sekarang, pada tahun 2026, sebagian besar tugas teknis dapat dinegosiasikan melalui dialog dengan AI.
Contoh praktisnya, Fotografer cukup memberikan instruksi seperti “soft dramatic light, contrast rendah, tone netral dengan highlight halus.” AI akan mengatur pengaturan kamera atau memberi panduan lighting setup terbaik. Ketika ingin mengganti mood, cukup katakan “Ganti ke suasana sendu sore hari tapi tetap mempertahankan ekspresi senyum model.” AI akan menganalisis foto, mempertahankan elemen penting, lalu mengubah estetika secara halus tanpa merusak realisme.
Dengan demikian, fotografer berperan sebagai “direktur kreatif” seseorang yang fokus pada cerita, makna, hubungan manusiawi, dan ekspresi visual. AI mengambil alih sebagian pekerjaan detil teknis, bukan untuk menenggelamkan kreativitas, tetapi untuk mempercepat dan memperluas imajinasi.
Foto ilustrasi hasil Foto Generatif: Seolah teknologi AI adalah asisten pribadi fotografer.
Dampaknya terasa signifikan pada berbagai genre fotografi. Pada Fotografi Fashion, penciptaan mood board otomatis, simulasi pencahayaan, hingga penyesuaian warna kain secara real-time. Pada Fotografi Arsitektur, koreksi perspektif dan pencahayaan ekstrem dapat dilakukan langsung di lokasi. Pada Fotografi Wedding, AI membantu memilih momen terbaik, mengurangi foto blur, dan menjaga tone warna tetap konsisten.
Pada Fotografi seni, eksplorasi estetika baru yang sebelumnya sulit diwujudkan tanpa manipulasi digital kompleks. Dan pada Fotografi jurnalistik, asisten AI fokus pada akurasi
metadata, kualitas gambar, namun tetap menjaga integritas etis. Dengan kata lain, AI membantu fotografer menjadi lebih “efisien”, namun tetap menjaga nilai artistik dan kepekaan manusia.
Private AI Models
Tren besar lain tahun 2026 adalah munculnya “Private Model”, yaitu model AI yang dilatih secara khusus menggunakan portofolio pribadi seorang fotografer. Seorang fotografer profesional biasanya mengembangkan gaya khas dengan palet warna tertentu, komposisi khas, atau mood yang selalu mereka hadirkan dalam karya mereka. Selama ini, konsistensi gaya adalah buah dari latihan, insting visual, dan jam terbang. Namun kini AI dapat mempelajari semua itu, dan hasilnya setiap edit foto akan otomatis mengikuti “DNA visual” sang fotografer. Misalnya tone warna tidak berubah-ubah antara satu proyek dengan proyek lain. Klien dapat memperoleh hasil yang lebih cepat tanpa mengurangi kualitas. Hal tersebut tentunya akan membuat fotografer lebih produktif dan konsisten dalam menjalankan bisnisnya.
Private AI Model membuat gaya visual tidak lagi hanya intuisi, tetapi juga sebuah sistem yang dapat diarsipkan, diwariskan, dan diterapkan ulang. Ini tentu membuka diskusi baru tentang “keaslian” dalam seni, tetapi ia juga membuka peluang besar bahwa fotografer dapat mempertahankan identitas visual yang kuat tanpa harus membuat ulang proses yang sama berulang kali.
Ketika Kamera Menjadi Cerdas “Smart Composition Real-Time” Perkembangan kamera juga mengikuti tren ini. Kamera generasi 2026 mulai dilengkapi sensor yang membaca skenario dan menyesuaikan exposure sesuai mood, sistem pelacakan AI yang memahami niat framing, analisis semantik yang memberi saran spontan seperti “Geser 10 cm ke kanan untuk komposisi lebih kuat.” Rekomendasi lensa berdasarkan gaya yang sedang digarap, dan bahkan “pose correction assistant” untuk fotografi potret dan fashion.
Ada pula kamera yang dapat menampilkan pilihan estetika dalam berbagai gaya sebelum tombol shutter ditekan: filmic, noir, pastel, dreamy, urban grunge, dan sebagainya. Bagi fotografer pemula, ini mempercepat pembelajaran. Bagi profesional, ini memperluas ruang eksperimen tanpa risiko kehilangan momen.
Autentik atau Manipulatif?
Pertanyaan apakah fotografi yang dibantu AI masih autentik atau justru manipulatif adalah perdebatan besar dalam dunia visual saat ini. Namun, jawaban sebenarnya tidak
sesederhana memilih salah satu sisi. Fotografi selalu hidup di antara dua kutub itu, yaitu kejujuran dan interpretasi bahkan jauh sebelum AI hadir.
Sejak awal sejarahnya, fotografi tidak pernah sepenuhnya “apa adanya”. Fotografer memilih lensa tertentu, sudut tertentu, detik tertentu, bahkan memilih apa yang tidak dimasukkan ke dalam frame. Inilah bentuk manipulasi halus yang selalu menjadi bagian dari estetika fotografi. Ketika gelap di kamar cuci film, fotografer memutuskan seberapa terang atau gelap sebuah area. Ketika era digital tiba, editing menjadi bagian penting dari proses kreatif. Dengan kata lain, manipulasi bukan hal baru melainkan yang baru hanyalah alatnya.
AI masuk sebagai alat baru yang memperluas pilihan tersebut. Ketika digunakan sebagai pendukung untuk menyeimbangkan pencahayaan, menghilangkan noise, atau membantu seleksi objek AI tidak mengubah autentisitas. Ia hanya mempercepat proses yang sebelumnya memakan waktu panjang. Foto tetap berasal dari kamera, momen tetap nyata, dan keputusan kreatif tetap milik fotografer. Dalam konteks ini, AI adalah penyempurna teknis, bukan pengganggu kebenaran visual.
Namun, AI juga membuka kemungkinan manipulasi yang jauh lebih dalam. Foto bisa direkonstruksi, ditambah elemen yang tidak ada, atau diubah suasananya secara drastis. Di sinilah wilayah abu-abu muncul: sebuah foto bisa terlihat seperti dokumentasi, tetapi sebenarnya adalah hasil komposisi buatan. Jika tujuan fotografer adalah membuat karya seni, imajinasi atau fantasi, perubahan seperti ini sah dan justru memperkaya ekspresi visual. yang menjadi masalah adalah ketika manipulasi tersebut disajikan sebagai representasi fakta, padahal tidak demikian. Bukan AI-nya yang bermasalah, tetapi klaim yang menyesatkan.

Foto sebelah kiri dari kamera digital, dan foto sebelah kanan hasil editing menggunakan AI.
Keaslian dalam fotografi tidak lagi hanya soal apa yang direkam oleh sensor, tetapi juga tentang kejujuran niat. Selama fotografer transparan tentang pendekatan yang digunakan, autentisitas tetap terjaga. Di sisi lain, ketika AI diperlakukan seperti kuas dalam lukisan sebagai alat kreatif untuk membangun dunia dan emosi maka manipulasi bukanlah sesuatu yang negatif; ia adalah gaya artistik.
Dengan demikian, fotografi dibantu AI dapat menjadi autentik dan manipulatif, tergantung pada konteks, tujuan, dan kejujuran pencipta. Yang membedakan keduanya adalah bagaimana fotografer memposisikan teknologi ini. Apakah sebagai alat untuk memperjelas kenyataan, atau sebagai medium untuk menciptakan realitas baru. AI tidak menentukan moralitas gambar manusialah yang melakukannya.
AI Tidak Menggantikan Rasa, tapi Justru Memperkuatnya
AI tidak pernah benar-benar menggantikan rasa seorang seniman atau fotografer, justru kehadirannya memperkuat apa yang paling manusiawi seperti intuisi, rasa, dan kepekaan terhadap pengalaman visual. Dalam dunia fotografi 2026 AI bukanlah pesaing, tapi partner yang
bekerja di belakang layar membantu seniman mencapai apa yang dulu sulit, lambat, atau bahkan mustahil dilakukan sendirian.
Fotografer tetap menjadi pusat semesta kreatif. Rasa manusia ketertarikan pada cahaya tertentu, kegelisahan yang melahirkan ide, atau intuisi saat menekan shutter masih tak tergantikan. AI tidak punya perasaan ketika melihat cahaya pagi jatuh di wajah seseorang, serta emosi batin ketika menemukan momen yang terasa “tepat”. Apa yang dimiliki AI hanyalah pemrosesan cepat, analisis pola, dan kemampuan teknis luar biasa. Tapi justru itulah yang membuat kolaborasi ini kuat di mana manusia mengandalkan rasa dan AI mengandalkan logika. Keduanya tidak saling meniadakan, tetapi saling melengkapi.
Di studio foto maupun out door, AI bertindak seperti super asisten yang menganalisis pencahayaan, memberi rekomendasi komposisi alternatif, dan memperbaiki sedikit kesalahan teknis. Bisa juga membantu menyusun moodboard hanya dengan deskripsi verbal fotografer. Namun keputusan kreatif tetap milik manusia. Fotografer yang memilih atmosfer yang ingin dibangun, menentukan cerita yang ingin disampaikan, dan menetapkan arah emosi dari setiap frame. Ketika AI mengusulkan ide atau koreksi, fotograferlah yang membaca konteks dan memutuskan mana yang selaras dengan ide dan visi artistiknya.
Bahkan dalam proses pascaproduksi, AI memperkuat karakter fotografer. Bukan mengambil alih gaya, tetapi memahami pola editing sang fotografer tentang tone favorit, kehangatan warna, nuansa kontras, tekstur, hingga mempercepat workflow tanpa menghilangkan identitas. Hasil akhirnya justru membuat fotografer semakin mampu memperdalam ekspresi visualnya, karena ia memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada konsep, emosi, dan storytelling.
Kolaborasi ini mengingatkan kita pada hubungan antara fotografer dan kamera itu sendiri. Kamera selalu menjadi alat yang sangat canggih, tetapi rasa yang memandu setiap keputusan tetap datang dari manusia di belakangnya. AI hanyalah evolusi berikutnya dari alat itu lebih cepat, lebih pintar, lebih sensitif namun tetap tidak memiliki emosi maupun pengalaman hidup yang membentuk sudut pandang unik seorang fotografer.
Dengan demikian, AI tidak merampas esensi seni namun ia memperluasnya. Fotografer kini punya kesempatan mengeksplorasi ide yang lebih berani, menciptakan karya yang lebih imajinatif, dan mengekspresikan dunia batin mereka dengan cara yang lebih presisi. Rasa manusia yang lahir dari pengalaman, memori, luka, keberanian, dan keingintahuan tetap menjadi pusat. AI hanya menerangi jalan, membantu seniman melangkah lebih jauh dari batas yang dulu mereka kenal.
Di masa depan fotografi, bukan tentang siapa yang lebih baik manusia atau mesin. Tetapi tentang bagaimana keduanya bisa saling mengangkat. AI memperkuat rasa dan sebaliknya rasa
dari fotografer mengarahkan AI. Kolaborasi ini adalah bentuk baru dari kreativitas modern di mana teknologi tidak menghilangkan kemanusiaan, tetapi justru membuatnya semakin bersinar.
Memang, tidak bisa dihindari bahwa AI menggantikan profesi tertentu di dunia fotografi, namun juga menciptakan profesi baru di dunia fotografi. Studio-studio komersial mungkin perlahan meredup, profesi fotografer stok dan katalog dasar juga perlahan punah. Klien tak lagi perlu menyewa studio mahal cukup dengan satu perintah teks, AI mampu menghasilkan gambar produk hiper-realistis dalam hitungan detik tanpa model, dan tanpa kamera fisik. Bagi mereka yang hanya mengandalkan teknis repetitif tanpa narasi kuat, ini adalah akhir dari karir mereka.
Namun, di tengah kesunyian studio fisik itu, layar monitor justru menyala terang menyambut profesi baru. Sebut saja AI Photo Director atau Synthographer. Mereka adalah mantan fotografer yang banting setir, bukan lagi melulu sebagai perekam cahaya, melainkan sebagai arsitek imajinasi. Tugas mereka masih membidik objek, namun lebih dominan meramu bahasa (prompt), komposisi, dan gaya artistik untuk memandu AI menciptakan visual yang mustahil ditangkap kamera biasa. Mereka menjadi kurator etis dan penentu estetika, memadukan hasil mentah AI dengan sentuhan emosi manusia yang mendalam. Dunia fotografi tidak mati, ia hanya berevolusi dari keterampilan menangkap momen yang ada, menjadi kemampuan menciptakan dunia yang belum pernah ada.
Dunia Visual Baru Sedang Dilahirkan
Tahun 2026 adalah awal dari perubahan besar dunia fotografi. AI bukan lagi program yang bekerja di balik layar, melainkan partner yang berdialog dengan fotografer. Sebuah pasangan kreatif yang sama-sama berkontribusi dalam penciptaan visual. Human AI Synergy bukan sekadar istilah teknologi, tapi paradigma baru dalam berkarya. Sebuah pendekatan yang memungkinkan fotografer menggabungkan kemampuan teknis tak terbatas dari mesin dengan kedalaman emosi dan imajinasi manusia.
Di era ini, setiap fotografer memiliki kesempatan untuk menciptakan karya yang lebih produktif, lebih terstruktur, lebih eksperimental, dan lebih personal. Mungkin inilah masa ketika fotografi benar-benar berkembang bukan hanya sebagai teknik, tetapi sebagai bahasa baru. Bahasa yang dibentuk oleh mata manusia, dipersempurna oleh kecerdasan buatan, dan dimaknai oleh siapa pun yang melihatnya.
(Dari Berbagai Sumber)
SELENGKAPNYA TERDAPAT PADA MAJALAH CETAK & ELEKTRONIK INDONESIA PRINT MEDIA EDISI 128 JANUARI-FEBRUARI 2026
Info : info@printmediamagz.com
Mobile : +62 811 808 282







