
Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si.
(Dosen DKV ISTTS – Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya)
Dunia percetakan terdapat berbagai macam teknik cetak, salah satu yang perlu ketahui adalah teknik cetak flexografi. Teknik cetak flexografi merupakan teknik cetak tinggi yang menggunakan plat dari bahan karet atau bahan yang dianggap flexibel. Penerapan teknik cetak flexografi ini secara sederhana dipahami seperti pada cetak menggunakan stempel. Proses stempel tersebut permukaan tulisan pada karet terletak lebih tinggi dibandingkan media cetaknya (plastik/kertas). Saat stempel ditekan pada bak tinta akan mengalami perpindahan tinta dari bak tinta menuju ke stempel. Kemudian ketika stempel di tekan akan menghasilkan cetakan pada kertas yang hasilnya sesuai dengan tulisan yang terdapat pada karet.
Flexography atau Cetak Flexo pada beberapa dekade sebelumnya sering diaplikasikan untuk mencetak “low quality” seperti cetak pada karton, tetapi dengan perkembangannya kualitas hasil cetaknya sudah baik dan bisa disejajarkan dengan cetak offset (cetak datar) yang lebih berkembang lebih luas. Sedikit tentang teknik cetak konvensional (bukan cetak digital), ada 4 teknologi, yaitu cetak tinggi, cetak datar, cetak dalam, dan cetak saring. Penjelasan sederhananya; cetak tinggi adalah bagian acuan cetak yang lebih tinggi yang terkena tinta, yang kemudian dipindahkan ke media cetak layaknya stempel. Sedangkan cetak datar, acuan bagian yang mencetak dan yang tidak mencetak sama tinggi permukaannya, dan pada umumnya disebut cetak offset. Cetak dalam adalah bagian acuan yang terkena tinta posisinya lebih rendah dan menyerap tinta hingga teraplikasikan ke media cetak, sering disebut cetak Gravur. Sedangkan cetak saring adalah teknik yang acuannya berupa saringan (kain nyilon), dan sering disebut teknik Sablon.
Sesuai dengan judul artikel, pada kesempatan ini pembahasan hanya pada cetak flexo berkenaan dengan cetak label dengan tampilan foto. Teknologi cetak flexo, proses cetaknya diawali dari pembuatan Final Artwork (FA) dari Desain yang sudah disetujui dan dinyatakan siap cetak. Kemudian proses dilanjutkan pra cetak (pre press) yang melakukan proses pembuatan plate. Dalam proses pembuatan plate terdapat dua proses inti yaitu penyinaran (imaging) dan pencucian (developer). Pada proses imaging, terdapat dua tahapan yaitu “back expose” dan “front expose”, dan kualitas plate banyak menentukan proses dan hasil, plate yang baik akan memudahkan dan tidak membawa masalah di proses cetaknya.
Mesin Cetak Flexo dengan kualitas resolusi untuk foto (sumber: www.hirichlabels.vn )
Mesin cetak Flexo untuk mencetak packaging telah banyak digunakan di Indonesia oleh perusahaan-perusahaan manufaktur yang memproduksi berbagai macam produk, seperti makanan, minuman, kosmetik, farmasi, dan sebagainya. Mesin cetak Flexo yang digunakan di Indonesia umumnya memiliki teknologi dan kualitas yang baik untuk memenuhi kebutuhan produksi dengan volume yang cukup besar.
Mesin cetak Flexo yang digunakan di Indonesia umumnya memiliki kemampuan untuk mencetak pada berbagai jenis bahan kemasan, seperti kertas, plastik, film, dan aluminium foil. Mesin cetak Flexo juga memiliki kemampuan untuk mencetak dengan variasi warna yang banyak dan menghasilkan kualitas cetak yang bagus dan tahan lama, sehingga memungkinkan untuk cetak foto/desain pada kemasan label.
Untuk memilih mesin cetak Flexo yang tepat untuk produksi kemasan di Indonesia, perusahaan harus mempertimbangkan faktor-faktor seperti kapasitas produksi, jenis produk yang diproduksi, dan kualitas cetakan yang diinginkan. Perusahaan juga harus memastikan bahwa mesin cetak Flexo yang akan digunakan telah memenuhi standar keselamatan dan kesehatan kerja serta standar lingkungan yang berlaku di Indonesia.
Kualitas Cetak Flexografi
Pada proses pra-cetak akan menentukan LPI (Line per Inch), selain itu juga ditentukan pembagian warna dan gambarnya sesuai dengan unit cetak mana yang akan digunakan. Karena masing-masing unit cetaknya dibagi atas dasar warna, selain itu juga harus sudah ditentukan kehalusan gambar/foto, teks, dan solid (blok) dari suatu cetakan pada unit cetaknya. Untuk mendapatkan hasil yang optimal biasanya antara gambar (raster foto) dan blok harus dipisahkan pada unit cetaknya meskipun warnanya sama. Bahkan untuk kasus tertentu harus dengan proses cetak sablon untuk mendapatkan solid lebih baik. Jika semua dicetak dengan proses flexo, penggunaan anilox rol harus dibedakan antara unit yang mencetak gambar dan unit cetak teks kecil.
Dari penjelasan sederhana tentang Flexo di atas, harus dibutuhkan tenaga pekerja (SDM) yang mempunyai pengetahuan, skill, dan pengalaman sehingga bisa mendapatkan hasil yang optimum. Dalam hal ini peran SDM cukup dominan disamping teknologi dan kondisi mesinnya.
Selama dekade terakhir, terlihat banyak produk berpindah dari cetak gravure ke flexo untuk label atau packaging-nya. Sebelumnya, banyak pengguna mesin flexo masih meragukan kemampuan mereka untuk mencetak dengan berkualitas tinggi. Sehingga butuh literasi dan diskusi panjang tentang pencetakan berkualitas tinggi dengan berbagai macam teknologi cetak yang ada dan menampilkan contoh terbaiknya.
Perubahan bergerak cepat di pasar flexo regional, seperti yang terjadi di Amerika Selatan dan Asia perubahannya luar biasa. Pasar percetakan telah melompat ke teknologi flexo berkualitas tinggi dengan mengadopsi mesin dan peralatan terbaru. Teknologi permesinan dan pelat sepenuhnya mendukung pencetakan berkualitas tinggi, karena mesin cetak flexo modern menggunakan teknologi pelat tipis dan pracetak dibuat dengan gambar beresolusi tinggi.
Cetak Flexo untuk Foto
Teknologi cetak flexo biasanya tidak digunakan untuk mencetak foto, karena teknologi ini lebih umum digunakan untuk mencetak label, kemasan, dan produk-produk lainnya dengan cetakan berulang yang terdiri dari pola atau warna yang sederhana.
Mencetak foto untuk jumlah masal, teknologi cetak yang lebih umum digunakan adalah offset atau gravur. Namun jika ingin mencetak foto pada label atau kemasan, sekarang banyak yang rekomendasi menggunakan teknologi flexo, dengan beberapa hal yang perlu diperhatikan. Karena cetakan flexo terdiri dari pola yang sederhana, maka harus memilih foto yang memiliki kontras yang tinggi dan warna yang jelas. Selain itu, juga harus memilih bahan cetak yang sesuai dengan teknologi flexo, seperti bahan yang fleksibel dan dapat menahan tekanan cetakan yang tinggi.
Kualitas gambar foto pada label dengan teknologi cetak flexo tergantung pada beberapa faktor, seperti kualitas gambar yang digunakan, resolusi cetakan, bahan cetak, dan proses cetak yang akurat dan tepat.
Salah satu kelemahan teknologi cetak flexo adalah terdiri dari pola atau warna yang sederhana, sehingga sulit untuk mencetak gambar dengan detail halus dan gradasi warna yang halus. Oleh karena itu, cetakan flexo lebih cocok digunakan untuk mencetak gambar dengan kontras yang tinggi dan warna yang jelas, seperti logo atau grafik sederhana.
Namun dengan teknologi dan mesin cetak yangselengkapnya terdapat pada majalah INDONESIA PRINT MEDIA EDISI 112 Mei-Juni 2023






