
Sugeng B. Rahardjo
Pengantar
Percetakan kemasan karton adalah salah satu bisnis yang tetap survive karena menjadi bagian dari kebutuhan primer manusia khususnya terkait kebutuhan konsumptif sembilan bahan pokok seperti sandang, pangan, papan dan sebagainya. Banyak perusahaan berbisnis ‘as usual’ atau apa adanya. Fokus tulisan ini adalah memberikan sentuhan teori Strategi Bisnis dan Manajemen pada Percetakan Kemasan Karton. Walaupun kita menyadari bahwa Skala Ekonomi Bisnis Percetakan Kemasan Karton ini sangat lebar, mulai dari Percetakan Pemasan Rumahan hingga Percetakan Kemasan Besar yang didukung oleh Aliansi Pemodal Besar. Diharapkan tulisan ini memberikan wawasan baru seni berbisnis dan bisa di terapkan dalam bisnis Percetakan dan Kemasan.
- Pertumbuhan Bisnis Kemasan Karton di Indonesia.
Pertumbuhan bisnis kemasan di Indonesia cukup menarik, karena tumbuhnya kelas menengah, seperti yang disampaikan oleh lembaga riset Mordor Inteligent, terhadap peramalan industri tahun 2023 hingga 2028. Pertumbuhan kelas menengah di tandai dengan lajunya permintaan terhadap produk Consumer Product seperti : Kosmetika, Perawatan Kulita, Make up, Perawatan Rambut dan lain-lain.
Bisnis pengemasan karton pun sudah di adaptasi oleh Lembaga Regulasi Pemerintah melalui Peraturan Pemerintah dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, nomor 75 Tahun 2019, tentang kewajiban bagi industri kemasan mematuhi hal : (1) Pengelolaan Limbah Karton (2) Penghentian Produk Plastik kebutuhan tunggal, seperti untuk Bungkus Makanan, Minuman dan sebagainya.
Menurut Badan Pusat Statistik (Lembaga Pemerintah Indonesia), pada tahun 2020, sekitar 34,27% Pendapatan Perkapita dihabiskan untuk makanan dan minuman jadi. Yaitu sekitar 7,52% dan 4,99% untuk sayuran dan buah-buahan. Peningkatan pengeluaran untuk Roti dan Sereal Batangan, Makanan Siap Saji jangka pendek dan pengiriman Kopi atau Cokelat Panas, Makanan Kering dan dehidrasi (Sup Instan, Paket Kuah dan Saus, Nasi, dan Campuran Makanan), Makanan Ringan dan Kacang-kacangan, Makanan Berbumbu, Cokelat dan Permen, Es Krim baru, dan Produk Roti, seperti Cookies (biskuit), Kue, dan Keripik, telah meningkat pesat di Indonesia selama beberapa tahun terakhir, mendorong pertumbuhan karton lipat di negara ini.
Estetika kemasan produk farmasi dan perawatan kesehatan menjadi semakin penting di negara ini. Jika produk tersebut dijual bebas, itu tidak lagi dianggap sebagai entitas fungsional tetapi menjadi aset untuk menarik perhatian. Produk Suplemen dan vitamin sudah ada sejak lama, dan penjualannya di Indonesia terus meningkat seiring tumbuhnya minat konsumen terhadap kemasan yang menarik.
Meningkatnya permintaan akan kemasan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan di segmen perawatan kesehatan membuka jalan bagi kemasan karton lipat. Misalnya, pada Februari 2022, Bayer AG, sebuah Perusahaan Farmasi dan Ilmu Kehidupan Global yang memiliki pabrik di Indonesia, memulai beberapa kegiatan, termasuk investasi baru-baru ini pada produk kesehatan berkelanjutan, untuk memajukan komitmen keberlanjutan 2030 perusahaan. Perusahaan telah menginvestasikan EUR 100 juta untuk memungkinkan inovasi, produksi, dan konsumsi produk Kesehatan Konsumen yang lebih berkelanjutan, termasuk merek global seperti Aspirin, Bepanthen, Claritin, dan Elevit
Pasar Kemasan Karton Lipat Indonesia terfragmentasi karena pasar tersebut memiliki vendor internasional dan lokal. Khususnya, untuk mendapatkan pangsa pasar dan bersaing dengan penuh semangat, perusahaan mengadopsi beragam strategi, seperti merger dan akuisisi. Vendor seperti AR Packaging memasuki pasar dengan mengakuisisi perusahaan dalam negeri yaitu PT Maju Jaya Sarana Grafika. Pemain kunci adalah Industri Pembungkus Internasional yaitu Pt, PT. Fajar Surya Wisesa Tbk, Pt. Metaform (Kompas Gramedia) dan lain-lain seperti pada Gambar 1 dibawah ini.
Gambar 1. Market Leader (lima besar) Industri Kemasan karton Indonesia
Tahun 2023 -2028
Sumber : Mordor Inteligent, 2023
- Peningkatan Effisiensi dan Daya Saing bisnis.
Bagi seorang pengusaha bisnis, mantera dalam semua bisnis adalah tindakan yang ‘efisien’ dan ‘efektif’ untuk meningkatkan daya saing. Dalam bisnis kemasan karton dan bagi kebanyakan pebisnis percetakan dan kemasan, keuntungan didapat terbesar dari ‘raw material gap profit’ atau selisih keuntungan dari bahan baku, dan ‘operating cost gap profit’ atau margin keuntungan dari jasa ‘ makloen’ atau ongkos produksi per-satuan produk misal biaya per druk. Pendapatan lain-lain seperti penghematan biaya gudang, transportasi, penjualan waste dan sisa produksi (over product) dan lain-lain.
Daya saing.
Daya saing adalah satu tantangan untuk keunggulan berkompetisi dari sebuah usaha bisnis. Daya saing sangat diperlukan agar perusahaan tetap mampu untuk bertahan (sustainability) dan diharapkan mampu mengambil pangsa pasar pesaing (retention).
Menurut Michael Porter, dalam teorinya Five Forces for Competitive Advantage, Keunggulan bersaing perusahaan adalah jika perusahaan mampu untuk lebih unggul dari : (1) pesaing sejenis, (2) terhadap Supplier (3) terhadap Customer (4) terhadap timbulnya Barang Pengganti dan (5) terhadap Pendatang Baru seperti pada Gambar 2 dibawah ini.
Gambar 2. Porter’s Five Forces – Competitive Advantage
Sumber : Consulterce.com
Bagi Industri kemasan karton, kemampuan bersaing sebagai berikut :
- Pesaing sejenis : Perusahaan karton kelas Home Industri dan kelas pabrikan menengah dan kelas pabrikan besar
- Pendatang Baru : Perusahaan kemasan Global / Internasional yang mengakuisisi perusahaan lokal
- Supplier : Pemasok bahan baku yang memiliki daya tawar tinggi, sehingga perusahaan tidak punya pilihan lain selain membeli di supplier tersebut.
- Customer : Pembeli memiliki daya tawar yang tinggi karena memiliki kemampuan keuangan yang baik.
- Barang Pengganti : Produk lain yang bisa menggantikan fungsi karton kemasan, seperti : styrofoam.
- Strategi perusahaan untuk meningkatkan daya saing.
Baik perusahaan lama atau yang baru berdisi, wajib merumuskan visi misi dan startegi. Karena Visi Misi adalah fondasi terhadap apa, bagaimana, dan mau kemana perusahaan tersebut didirikan.
Begitu juga bagi perusahaan yang lama berdiri, tetap harus merumuskan ulang, apa dan bagaimana kedepan. Banyak perusahaan merumuskan ulang rencana bisnis, karena disrupsi teknologi, kemajuan era Industri 4.0, era Sosial 5.0, merubah cara pandang manusia terhadap bisnis. Beberapa perusahaan maju mengembangkan teknologi bisnis berbasis Artificial Inteigent, Machine Learning, Virtual dan Realty Augmented, menyebabkan beberapa bisnis terdisrupsi seperti terjadi pada Media Cetak, Pengiriman Surat Konvensional, Warung Telepon (Wartel) dan lain-lain. Sehingga kebanyakan perusahaan besar mendesain ulang rencana bisnis yang di realisasikan kepada model bisnis baru.
Visi-Misi perusahaan merupakan gagasan yang dibuat oleh pendiri (Founding Father) perusahaan tersebut, pengejawantahan terhadap mimpi kedepan si Pendiri, mau kemana dan menjadi apa perusahaan tersebut dimasa depan, bisa sepuluh tahun kedepan hingga dua puluh lima tahun kedepan. Lihat Gambar 3 dibawah ini.
Gambar 3. Tahapan penyusunan Strategis Perusahaan
Sumber : https//: spur-reply.com
Misi merupakan operasionalisasi dari Visi. Sebagai contoh, perusahaan Kemasan Karton memiliki Visi menjadi Perusahaan Pengemasan Karton Terbaik di Indonesia, dalam bentuk Layanan dan Kualitas Prima. Sedangkan Misinya adalah Memberikan Contoh kepada Komunitas bagaimana memproduksi secara effisien dan effektif dengan teknologi tepat guna, dan di jalankan oleh tenaga yang handal, sehingga memberikan jaminan kualitas prima dan agar mampu menjadi perusahaan terdepan, dikerjakan secara profesional dan mampu memuaskan kebutuhan pemesan.
Perancangan Strategis.
Setelah merumuskan Visi Misi, tindak lanjut adalah menganalisis Lingkungan Bisnis, menggunakan teknik SWOT Analisis yaitu mempelajari Keunggulan – Kelemahan di Internal Perusahaan (Strength-Weakness) menganalisis Lingkungan Eksternal di luar perusahaan yang diistilahkan dengan Pestel, yaitu : Politik, Sosial, Teknologi, lingkungan dan Regulasi. Analisis ini penting untuk mengetahui potensi yang mungkin terjadi saat ini dan masa depan. Lihat Gambar 4. Model Perencanaan Strategis dibawah ini.
Gambar 4. Model perencanaan strategis
Sumber : Research optimus.com
Sesudah menyusun visi-misi dan menganalisis SWOT dan PESTEL, tindak lanjut adalah mendesain ulang bagaimana bisnis tersebut di jalankan.
Beberapa perusahaan Kemasan karton memikirkan apakah Model Bisnis ini tetap bergantung dengan Supplier Lokal yang lama, atau membentuk Aliansi, atau membuat Lini Produksi Baru, dari Muara hingga ke Hilir. Ini tergantung bagaimana industri tadi melihat Ancaman, Tantangan dan Kesempatan Bisnis.
Dalam sebuah bisnis, yang terpenting adalah memahai kemampuan bersaing dalam perusahaan tersebut dengan menganalisa faktor Kapabilitas Internal Perusahaan yaitu :
- Teknologi yang dimiliki, apakah mampu memproduksi secara efektif dan efisien, sesuai target produksi, kecacatan, utilisasi mesin, troughput time.
- Infrastruktur, apakah mampu mendukung produksi yang effisien, kualitas terbaik, dan layanan tepat waktu.
- Sumber daya manusia yang handal dan kompeten untuk menjalankan bisnis secara profesional, terukur, berorientasi terhadap pencapaian sasaran.
Kapabilitas Internal sangat menentukan posisi anda dan pemilihan strategi bisnis. Jika ketiga faktor diatas sangat kuat, anda bisa melakukan persaingan secara ketat pada pemegang pangsa pasar (market leader) dengan menawarkan strategi fokus, yaitu strategi pelanggan yang sangat perduli kualitas dan layanan. Tetapi jika kapabilitas anda di bawahnya, anda bisa memainkan strategi harga, disini anda harus berani memotong Marjin Keuntugan dari gap biaya bahan baku dan gap biaya produksi. Lihat Gambar 5 Model Persaingan Bisnis dibawah ini.
Gambar 5. Model persaingan bisnis menurut Porter
Sumber : Digital Leadership.com
Value Preposition (Nilai pembeda) dan Insiatif strategi.
Apabila sudah menetapkan Strategi Bisnis yang ditetapkan, langkah berikutnya adalah menjelaskan apa yang menjadi pembeda produk anda dengan pesaing. Value Preposition merupakan bentuk pembedaan. Beberapa contoh Value Preposition misal :
- XYZ Corrugated Packaging Company : Memberikan solusi yang efektif melalui custom design, retail-ready packaging, dan desain inovatif melalui produk corrugated.
- XYZ Paper bag Company : Menyediakan beragam kantong kertas Kraft dan Putih kepada pelanggan dan klien kami dalam berbagai tingkatan dan format, serta untuk berbagai kebutuhan untuk industri tertentu seperti Layanan Makanan.
- DS Smith Packaging : Apakah Anda perusahaan global atau pemasok lokal untuk pelanggan global, DS Smith dapat memberikan solusi pengemasan multi-materi yang tepat.
- PGP Glass : Semangat untuk keunggulan di setiap anggota staf kami telah mendorong kami untuk menjadi salah satu produsen kemasan kaca terbesar dan terpercaya di dunia. Kami tidak menerima kompromi pada kualitas. Kemampuan desain, manufaktur, inspeksi, dan dekorasi terintegrasi kami menghasilkan kualitas tinggi
Contoh Value Preposition ini mendorong bagi keseluruhan stake holder, mulai dari karyawan, supplier, vendor, subkontrakting, pelanggan, dan manajemen mendorong terciptanya nilai tersebut.
Value preposition tersebut kemudian di realisasikan kedalam strategi perusahaan untuk mendorong realisasi rencana tersebut. Strategi ini di susun mulai dari Top management, hingga level terbawah. Dan Strategi ini di evaluasi minimal tiap triwulan untuk mengetahui efektifitas dan hambatan pencapaian sasaran value preposition tersebut.
Gambar 6. Tahapan penyusun strategi
Sumber : DHL.com
Strategi Insiatif, umumnya di turunkan dalam bentuk Kinerja atau KPI (Key Performance Indicator) yang menjadi target baik Tim maupun individu. KPI ini menjadi tolok ukur keberhasilan pencapaian Sasaran Kinerja, sesuai yang digariskan oleh Strategi yang di tetapkan Pendiri Perusahaan atau Pemilik Saham utama.
- Strategi memenangkan persaingan pada Percetakan Kemasan Karton.
Sesuai yang dijelaskan sebelumnya, perusahaan bisnis wajib untuk mencapai effisensi dan efektifitas. Dan pada bisnis percetakan kemasan, ada dua hal yang menjadi penting yaitu :
- Margin profit dari bahan baku
- Margin profit dari operasi produksi.
BERBASIS MARJIN PROFIT BAHAN BAKU
- Mengurangi biaya Transportasi.
Kebanyakan percetakan kemasan mendekati dengan pabrik pemasok Pada kasus di Sekitar DKI Jakarta dan Jabodetabek. Perusahaan percetakan kemasan mendekati area pabrik kertas kemasan yang banyak di seputaran Tangerang (khusunya sepanjang Sungai Cisadane). Hal ini terjadi karena : (1) kebanyakan pabrik kertas hampir 80 % konsumsi air dalam proses produksinya. (2) Terjadinya pemusatan pengepulan kertas bekas, baik kertas hvs, koran, dan kardus untuk di lakukan recycling produksi.
Jika percetakan berada jauh dari lokasi pabrik pemasok karton, biaya transportasi dibebankan kepada biaya persatuan kertas karton yang dipesan.
- Melakukan pembelian langsung (tanpa stok gudang) atau JIT, Just In Time
Beberapa percetakan kemasan menengah menggunakan teknik ini. Walaupun sedikit mahal dibandingkan pembelian partai besar, percetakan ini memangkas biaya gudang, dan resiko Sunk Cost, atau biaya yang sudah di keluarkan tetapi belum memberi manfaat. Bagi percetakan kemasan model ini, mendapatkan beberapa keuntungan seperti potensi kertas tidak layak karena lama tidak terpakai (FIFO, first in – first out).
- Maksimalisasi jumlah up pada kertas A0 yang di cetak.
Beberapa software untuk desain packaging saat ini tersedia dipasaran, tujuannya adalah memaksimalkan print area mesin cetak untuk memasukan jumlah ‘up’ atau ‘piece’ per satuan produk. Software tersebut seperti :
- Lay-out Optimizer, dari EngView System
- Package Designer Software, dari Dreamsoft Optimizer
- Pemilihan kertas berbasis kualitas yang di minta pelanggan.
Tidak semua pelanggan memilih kertas dengan kualitas tertinggi, semua tergantung kepada kebutuhan dan kegunaan yang ditetapkan pelanggan.
Memiliki katalog jenis karton dan ukuran, beserta tingkatan kualitas sangat membantu. Tetapi juga harus disesuaikan dengan regulasi yang ditetapkan pemerintah terkait penggunaan kertas karton , khususnya produk berbasis FMCG, Berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan dalam Pasal 82 ayat (1) disebutkan bahwa Setiap orang yang melakukan produksi Pangan dalam kemasan wajib menggunakan bahan kemasan pangan yang tidak membahayakan kesehatan manusia atau tidak melepaskan cemaran yang membahayakan kesehatan manusia. Untuk kebutuhan tersebut produk kemasan jenis ini membutuhkan kertas standard foodgrade.
Sedangkan untuk kebutuhan diluar kesehatan manusia, memungkinkan untuk non paper food, seperti untuk kemasan spare part elektronika, otomotif dan lain-lain.
BERBASIS MARJIN PROFIT BIAYA PRODUKSI
Dalam produksi cetakan kemasan, yang perlu dianalisa adalah rantai proses. Yaitu proses apa saja yang di lalui oleh bahan baku, sehingga menjadi barang jadi berupa kemasan.
Dalam Rantai Proses Produksi Kemasan Karton, Rantai Proses nya sebagai berikut :
- Persiapan produksi sampai ACC pelanggan
- Persiapan Tinta Warna Spesial (Pantone/TC)
- Persiapan Klise untuk Die Cut dan Hot Print
- Proses Cetak
- Proses Hot Print
- Proses Embose
- Proses Die Cut
- Proses Blanking
- Proses Packing.
- Proses Out Going QC
Note : Proses QC in process dilakukan mandiri pada setiap proses no 1 sd no. 9
Area kritis dalam proses produksi kemasan ini adalah :
- Persiapan desain hingga ACC Pemesan.
Bagi banyak perusahaan kemasan karton, kemasan tersebut dinyatakan layak produksi apabila (1) warna sesuai atau masuk dalam toleransi yang ditetapkan pelanggan (2) kemasan sesuai dengan fungsi kerjanya, yaitu : tidak mudah robek, warna pudar, tutupnya terbuka, mudah penyok dan lain-lain.
Kebanyakan Percetakan Kemasan gagal atau perlu waktu yang sangat lama hingga ACC pelanggan, mengapa? Karena kebanyakan produk cetakan kemasan akan dimasukan ke mesin pengemasan milik pelanggan. Untuk itu perlunya tim rekayasa percetakan yang terlibat, yaitu pihak Pracetak, Produksi, dan Enjinering untuk memaksimalkan kualitas produk agar lolos dari pengujian di mesin pengemasan pelanggan.
- Pengadaan tinta warna khusus.
Problematika bagi pencetak kemasan adalah masalah warna. Masalah warna ada dua hal yaitu (1) Warna Cetakan berdasarkan tone atau nada cetakan yang dibentuk dari halftone atau nada lengkap dari highlight, midtone hingga shadow, dan (2) tinta warna khusus. Produk kemasan adalah unik, mengapa? Karena pemesan tidak ingin ada perbedaan kualitas cetakan sejak awal di launcing (initial product) hingga produksi secara kontinyu, karena pembeli produk ada kekuatiran produk yang dibeli adalah palsu, karena warna atau tampilan yang berbeda dengan yang awal dibeli. Faktor orisinalitas yang menjadi panduan pembeli. Untuk itu percetakan kemasan wajib menjaga dua hal tersebut. Teknik untuk memastikan adalah sebagai berikut :
- Kesesuaian warna halftone, gunakan digital color proofing yang memadai, atau Manajemen Warna (CMS, color management system) dengan memastikan semua perangkat yang menghasilkan warna terintegrasi, mulai dari monitor komputer, output plate, output nyloprint (jika di cetak di flexographic) atu output di silinder gravure (jika pencetakan dengan teknik gravure). Penggunaan Spektro densitometer dan Looping system densitronik di mesin cetak sangat disarankan.
- Pembuatan Tinta Warna Khusus. Bagi percetakan kemasan besar, hal ini tidak ada masalah, karena tersedia In-plant pabrik tinta. Tetapi bagi percetakan kecil adalah masalah, karena ketidak tersediaan proofing system. Untuk itu sebaiknya bekerja sama dengan pihak pabrik tinta. Usahakan pemesanan untuk jangka panjang, sehingga hasilnya optimal.
- Proses produksi.
- Proses produksi kemasan SANGAT RAWAN RESIKO CACAT PRODUK, mengapa? Karena prosesnya adalah berkesinambungan, yaitu dari proses Cetak, Hotprint, Embosse, Die cut. Sedangkan kita menyadari bahwa kertas memiliki kelemahan bawaan atau natural defect, yaitu kertasnya mudah bergelombang dan memuai. Untuk itu strateginya adalah mengurangi resiko tersebut. Tekanan silinder cetak dan temperatur lampu UV sangat mempengaruhi jumlah cetakan yang tidak cacat karena kertas memuai dan gelombang (lihat Gambar 7)
Gambar 7. Misregistration pada cetakan kemasan duplex
Sumber : Luminite.com
- Bagi Percetakan kemasan besar yang menggunakan sistem online production, dimana memiliki sistem produksi kontinyu, misal (1) pencetakan dengan menggunakan tinta UV, dilanjut proses Hot-print, Embose, die cut satu langkah, sangat mungkin jumlah cacat di perkecil, karena tidak memberikan kesempatan waktu bagi kertas untuk berubah bentuk (memuai dan bergelombang)
Gambar 8. Inline Flexographic Printing Machine
Sumber : http://flexprintingpress.com
Gambar 9. Mesin packaging terintegrasi (Hot stamp – embosse – die cutting)
Sumber : https://www.eureka-machinery.com/
Gambar 8 dan 9 adalah masing-masing mesin yang terintegrasi. Gambar 8 proses produksi menggunakan flexo, dengan pengering tinta berbasis UV, sedangkan gambar 9 adalah mesin packaging terintegrasi dengan proses hot stamp – embosse dan die cut, yang dijalankan satu langkah.
- Bagi percetakan kemasan yang sistem permesinan belum terintegrasi
Berikut saran tindakan dalam pencegahan :
- Problema terbesar adalah mengurangi defect atau cacat di produk cetakan lembaran. Problem itu disebabkan terutama deforamasi kertas karton (gelombang dan pemuaian) disamping faktor lain, yaitu : Defect karena kertas cacat atau proses cetak tidak sempurna.
- Pencegahan yang utama adalah mengurangi resiko pemuaian. Yaitu melakukan pengkondisian lingkungan, agar kertas tidak memuai. Metode yang disarankan :
- Pembungkusan produk cetakan dengan plastik shrink, mencegah uap air atau kelembaban udara kepermukaan kertas.
- Mempercepat intermitten antar proses, artinya di usahakan, setelah pencetakan lanjutkan proses hot stamp – embosse – die cut. Artinya, dedikasikan satu mesin cetak khusus dengan lampu UV. Dan proses hot stamp – die cut – embosse, semua di kerjakan sendiri, karena jika di kerjakan di luar akan memberi kesempatan kertas memuai dan bergelombang.
- Produksi dengan dimulai dengan ‘up’ yang sedikit, dan pelajari efektifitasnya, misal di mulai dari 2 up, dan seterusnya.
- Lakukan kegiatan CI (Continous Improvement) yaitu perbaikan berkelanjutan, akan lebih baik disiapkan satu orang perekayasa (enjineering) yang melakukan studi khusus terhadap anomali yang terjadi, mulai dari penerimaan bahan baku, pencetakan, pengeringan, kelembaban udara, proses UV, proses Hot Stamp, proses Embosse hingga proses Die Cut. Pekerjaan pereka yasa diperlukan karena akan fokus kepada penelitian kasus dan mencari upaya perbaikan . dst…
- Selengkapnya terdapat pada majalah cetak dan elektronik INDONESIA PRINT MEDIA edisi 113 Juli-Agustus 2023. E-Mail : info.indoprintmedia@gmail.com WhatsApp +62 811808282







